9.01.2016

MASA KEJAYAAN MATARAM




Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian & relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang bisa dilihat sampai kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yg masih berlaku sampai sekarang. Kesultanan Mataram ialah kerajaan Islam di Pulau Jawa yg pernah berdiri pada abad ke-17.
Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.
Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela & Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa Majapahit. Asal-usulnya ialah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, berpusat di “Bumi Mentaok” yg diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama ialah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa & sekitarnya, termasuk Madura.
Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.
Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.
Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.
Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.
Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.
Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.
Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Sunan mataram, terkenal sebagai mangkurat tegalwangi, bukan lah anak tertua dari ayahnya, sultan agung, melainkan anak yang kesepuluh. Tetapi it anak kedua dari permaisuru kedua, Raden ayu wetan. Permaisuri yang pertama bernama Kanjeng Ratu Kulon yang menurut sebuah naskah (tersimpan di KITLV), bernama Ratu Emas Tinumpak. Tetapi setelah melahirkan anaknya, Raden mas sahwawrat, ia diusri dari keraton entah karena alasan apa. Setelah itu tempatnya diisi oleh permaisuri yang kedua.
Sementara asal-usul permaisuri yang pertama tidak disebut, asal-usul yang kesua diketahui. Ia adalah seorang putri keturunan Kerajaan Batang. Setelah permaisuri yang pertama keluar dari keraton, gelar namanya sebagai Raden Ayu Wetan kiranya diganti dengan Raden Ratu Kulon. Suaminya meninggal terlebih dahulu dan ia sendiri tutup usia pada tahun 1575 J. (1652 M).
Putranya yang tertua lahir tahun 1619. Anak ini mula- mula diberi nama Raden Mas Sayiddin, jadi nama arab. Lalu diberi nma Jibus, kemudianRangkah (semak berduri, tutup batas). Sebagai putra mahkota resmi ia dinamakn Pangeran Aria Mataram. Lama setelah ia meninggal dn tidak sebelum abad ke 18, tampil mangkurat yaitu nama yang dipakai putranya segera setelah naik tahta.
Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengan pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.pemerintahannya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat- sifat ayahnya.

Tinjauan Mengenahi Tahun- Tahun Pertama
Cerita tutur jawa dengan kuat sekali dijiwai usaha memaafkan dan membenarkan tindakan- tindakan sunan. Mungkin karena itu pulalah maka saudara yang lebh tua bernama pangeran agung, menjadi seorang pangeran alit yang lebih muda. Bahkan ada kalanya van goens berlebihan, misalnya ketika setelah menguraikan apa sebab sunan tidak dapat menangkap hidup- hidup saudaranya yang menberontak itu, tetapi terpaksa membunuhnya, ia menyatakan;” dan sekali lagi tampak dari peristiwa itu betapa kejam dan angkuhnya orang- orang ini” (Goens, geantschapsreizen:248).
Namun ekspedisi ke bali diberitakan juga dengan nada yang mencela, perbuatan- perbuatan tumenggung wiraguna yang tidk baik selama perutusan yang terdahulu, tetapi orang- orang belanda sudah tidak menejumpainya lagi.
Namun, cerita tutur diperlukan juga karena banyak yang menyebutkan hal- hal khusus sepertiserangan pangeran alityang terjadi selama pembangunan keraton Plered yang baru berlangsung. Juga gugurnya pangeran madura yang didukung oleh sumber lain. Memberitakan bahwa pangeran cakraningratmengawasi pembuatan batu bata ketika pangeran alit menghampirinya. Pangeran itu terkejut, dapat dikejarnya dan dipegangnya kendali kudanya dan hendak ditahannya secara bersahabat. Tetapi pangeran alit tidak dapt ditahan lagi, segera mencabut kerisnya, setan kober, dan menikam pengeran madura itu. Pangeran ini terluka kecil pada tulang belikat, tetapi jatuhnya dia diangkat oleh para pengikutya. Utanya, setelah mendengar berita ini, bergegas menuju lun- alun dan bertanding dengan pangeran alit sampai keduanya mati tetusuk keris.
Serangan adik sunan terhadap keraton bisa dilakukan karena hasutan ppara pengikutny, yaitu tumenggung pasisingan dan anaknya, agrayuda. Karena ketakutanya terhadap rkebencian sunan, serta melihatadanya kesempatan yang baik, maka mereka hasutlah pangeran alit yang masih muda supaya mau merebut tahta. Di phak lain raja pun tentu mempunyai hasrat melikuidasi kelompok yang terdahulu perna melawanny. Dalam usaha melawannya, dan yang mungkin akan mengulanginy.
Dalam usaha melaksanakan hastranya ini, dicoba adiknya supaya terjerumus dalam tindakan nekat. Dan ketika pengeran ini benar- benar berbuat seperti pa yang diinginkannya, maka nasibnya sudah ditentukan. Ketika melakukan serangan terhadap keraton, dengan jumlah pengiktnya yang begitu kecil, ia tewas. Lalu Raja mengadakan perhitungan dengan lawan- lawannya, di dalam tentara, tetapibaru terlaksana setelah blambangan bersih dari musuhdan bahkan setalah terjadi pertempuran melawan bali ke laut. Dalam pertempuran ini tumenggung wiragun, tumenggung danupaya, dn akhirnya juga asmaradana jatuh sebagai korban.

Politik Luar Negeri Mataram

Mengenahi aspirasi- spirasi politik sunan mataram, keterangan terbaik diperoleh dari raja itu sendiri. Pada akhir pemerintahannya, ketika dimana- mana sudah timbul pertanda yang buruk, sunan tidak hanya menganggap dirinya sebagai pemilik “ kekuasaan tertinggi ... di kota mataram”, tetapi juga sebagi penguasa atas seluruh Jawa. Dalam hubungan ini tentunya blambangan yang sudah terlepas dari kekuasaanya dan banten yang pernah dikuasainya, sedangkan kekuasaan semuanya atas batavia dan daerah sekitarnya.
Pada tahun 1660 seorang penguasa dari pantai merasa ketakutan menerima surat dari pemerintah kompeni karena dalam surat itu atasannya hanya disamakan denagn Syah Parsi dan mogol besar India. Juga di laut kedaulatan mataram dianggap tidak terbatas, oleh karena itu utusan mataram tingkat rendahan berpendpat bahwa pretensi kompeni atas kekuasaan di laut harus ditentnag dengan keras.
Di luar jawa kekuasaan mataram tampaknya lebih kecil. Hanya palembang yang setia sampai akhir (1677), mungkin berdasarkan tradisi lama, atau karena merasa terancsm oleh musuh matam, yaitu banten; dan jambi yang sedang berkembang dengan pesat. Di kalimantan setelah tahun 1660 tidak dapat lagi sisa- sisa kekuasaan mataram; sedangkan makassar mengahargai orang jawa sebagai sekutu.
Pemerintah kompeni di batavia mengemukakan telah menjejaki dan yakin bahwa jika peperangan terjadi, susuhan “tidah mudah meninggalkan istana mataram.

Hubungan Dengan Banten Dan Bali

Selama enam tahun pemerintahannya, sunan tidak merasa  senang terhadap banten. Tentu saja banten tidak mau memandang dirinya rendah dari mataram. Sehingga keduanya memutuskan persahabatan. Namun akhirnya mungkin su.nan telah membuat langkah pertama untuk menjadi rukun kembali dengan mengirimkan hadiah yang berarti, namun dengan menggunakan nama anaknya, sehingga apabila ditolak tidak akan merupakan sebuah penghinaan yang besar. Untuk menunjukan rasa hormatnya, sultan mengirimkan beberpa “gom” (gong) ke matarm, tetapi keberangkatannya ke pontang “ untuk berpesiar” tidak menunukkan sikap yang ramah. Baru pada pertenghan bulan november tahun 1659 para utusan boleh berpamitan dengan sehelai surat jalan untuk pulang kembali melalui batavia ke mataram.
Sementara hubungan sunan akhirnya berusaha menjalin hubungan baik dengan banten islam, maka sejak ekspedisi ke blambangan. Pada tahun 1653 raja ingin memblokade bali. Tetapi alangkah marahnya ia ketika mengethaui orang cina mengangkut beras bukan ke batavia. Melainkan ke bali. Terutama pada tahun 1663  ramai sekali terdengar desas- desus tentang akan adanya perang. Pada bulan desember tahun 1662 sudah terdengar berita- berita semacam itu. Tetapi terkadang sunan merasa bingung antara nat untuk berperang melawan bali atau hasrat untu membunuh pamannya ( Daghregister, 15 april 1663 :153).

Kerajaan Mataram pernah memerangi VOC di Batavia

Untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya. Sutawijaya naik tahta sesudah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yg terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta & selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang.
Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yg sesudah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati. Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yg artinya Raja (yang)wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat
Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yg bernama Mas Rangsangpada masa pemerintahan Mas Rangsang,Mataram mengalami masa keemasan.

Sultan Agung Menguasai Pulau Jawa & Madura

Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa & Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, & Jawa Timur sekarang).
Ia memindahkan lokasi kraton ke Karta (Jw. “kertÃ¥”, maka muncul sebutan pula “Mataram Karta”). Akibat terjadi gesekan dlm penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yg berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten & Kesultanan Cirebon & terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. 

loading...

0 komentar

Post a Comment