9.01.2016

PERPECAHAN DAN KEMUNDURAN MATARAM ISLAM


Runtuhnya Mataram Islam disebabkan adanya perpecahan-perpecahan yang ada dalam pengganti-pengganti Sultan Agung. Adanya perebutan kekuasaan dan campur tangan VOC terhadap Istana Mataram menjadi pemicu kemunduran Mataram Islam.

Perpecahan saat Pemerintahan Amangkurat I
Pengganti Sultan Agung Mataram adalah putranya yaitu Amangkurat I dengan gelar Sultan Amangkurat Senapati ing Alaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama.  Ia memindahkan keraton dari Kota Gede ke Plered (Poesponegoro, 2010: 58). Pada masa pemerintahannya, Amangkurat I terkenal pemberani, suka berubah-ubah pikiran, lalim, dan kejam. Amangkurat  menerapkan sentralisasi atau sistem pemerintahan terpusat. Amangkurat I juga menyingkirkan tokoh-tokoh senior yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya[1].
Sunan Amangkurat I telah memerintah untuk menghukum mati bapak mertuanya, Pangeran Pekik, bersama banyak anggota keluarganya pada awal tahun 1659 (Graaf, 1987: 6). Ini berawal saat Pangeran Giri dari Gresik pergi ke istana seolah-olah dihinggapi kesedihan dan bersujud di hadapan Sunan. Dia berkata bahwa dia telah di bujuk agar membunuh Sunan. Lalu Sunan bertanya siapakah yang merencanakan hal tersebut. Pangeran Giri menjawab Pangeran Surabaya bersama ketiga putranya. Sunan Amangkurat I langsung mengutus anak buahnya untuk pergi kesanan dan membunuh mereka. Kepalanya dibawa untuk diperlihatkan kepada sunan. Sebagai imbalannya, Pangeran Giri memperoleh perempuan cantik yang dibawanya ke Giri[2].
Menurut Graaf (1987: 11) Dia (Sunan Mangkurat I) baru saja lagi memecat tiga orang pembesar terpenting kerajaan, yaitu Raden Miena Poera (Wirapura?), kepala daerah di Tuban, Raden Miena Saraya (Wiraseraya?), dan Pangeran Macke Bommy atau Pangeran Mangkubumi. Seluruh Mataram karena itu menjadi kacau.
Tidak hanya perselisihan dengan tokoh-tokoh senior. Amangkurat I juga berselisih dengan putra mahkotanya, yaitu Raden Mas Rahmat yang menjadi Adipati Anom. Perselisihan ini dilatarbelakangi oleh berita bahwa jabatan Adipati Anom akan dipindahkan kepada Pangeran Singasari. Menurut tulisan tanggal 23 Juli 1970 Sunan menyerahkan tahtanya atau memerintahkan untuk naik tahta kepada putranya yang ketiga, bernama Raden Aria Tiron atau Pangeran Singasari (Graaf, 1987: 35). Namun pemerintahannya tidak berjalan lama, hanya selama delapan hari.
Pada tahun 1661 Mas Rahmat melancarkan aksi kudeta tetapi gagal. Amangkurat I menumpas seluruh pendukung putranya itu. Bulan Oktober 1661, Sunan sudah mencoba membunuh Pangeran Puger[3] (Pangeran Adipati Anom) dan Pangeran Purbaya, namun karena banyak keluarga terpandang dan dukungan terhadap mereka ia tidak berani melakukannya secara terbuka (Graaf, 1967: 15). Perselisihan memuncak tahun 1668 saat Mas Rahmat merebut calon selir ayahnya yang bernama Rara Oyi[4].
Mas Rahmat yang sudah dipecat dari jabatan Adipati Anom berkenalan dengan Raden Trunajaya menantu Panembahan Rama alias Raden Kajoran tahun 1670[5]. Panembahan Rama mengusulkan agar ia membiayai Trunajaya untuk melakukan pemberontakan. Kemudian Trunajaya dibiayai untuk melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I. Trunojoyo dengan cepat berhasil membentuk laskar, yang berasal dari rakyat Madura yang tidak menyukai penjajahan Mataram.
Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II, yang kemudian diasingkannya ke Lodaya, Kediri. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai raja merdeka di Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Pemberontakan ini diperkirakan mendapat dukungan dari rakyat Madura, karena Cakraningrat II dianggap telah mengabaikan pemerintahan.
Pemberontakan Trunajaya pangeran Madura. Trunajaya dan pasukannya juga dibantu para pejuang Makasar pimpinan Karaeng Galesong, yaitu sisa-sisa pendukung Sultan Hasanuddin yang dikalahkan VOC tahun 1668. Sebelumnya tahun 1674 pasukan Makasar ini pernah meminta sebidang tanah untuk membuat perkampungan, namun ditolak Amangkurat I.
Kedudukan Trunajaya dan pengikutnya semakin kuat. Hal ini dapat dilihat pada pertempuran besar di Gegodog pada tahun 1676 antara pasukan kerajaan dengan pasukan pemberontak yang lebih sedikit, namun dapat dimenangkan oleh pasukan pemberontak[6]. Inilah yang menjadi awal penyebab runtuhnya kerajaan (Hendriatmo, 2006: 7).
Di bawah pimpinan Trunojoyo, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan atas pasukan Amangkurat I menimbulkan perselisihan antara Trunojoyo dan Adipati Anom. Trunojoyo diperkirakan tidak bersedia menyerahkan kepemimpinannya kepada Adipati Anom. Pasukan Trunojoyo bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom yang berbalik mendukung ayahnya pada bulan Oktober 1676. Tanpa diduga, Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered.
Amangkurat I terpaksa melarikan diri dari keratonnya dan berusaha menyingkir ke arah barat, akan tetapi kesehatannya mengalami kemunduran. Setelah terdesak ke Wonoyoso, ia akhirnya meninggal di Tegal dan dimakamkan di suatu tempat yang bernama Tegal Arum. Sesudahnya, Susuhunan Amangkurat I kemudian juga dikenal dengan julukan Sunan Tegal Arum.

Perpecahan Saat Pemerintahan Amangkurat II
Putera Mahkota atau Pangeran Adipati Anom segera dinobatkan menjadi Susuhunan Ing Alaga dengan memakai gelar yang sama yaitu Amangkurat II[7]. Dalam usahanya memadamkan pemberontakan, segera mengadakan perjanjian kerja sama dengan VOC yang diwakili oleh Admiral Speelman (Hendriatmo, 2006: 8). Dan Mataram secara resmi menandatangani persekutuan dengan VOC untuk melawan Trunojoyo. Persekutuan ini dikenal dengan nama Perjanjian Jepara, September 1677 yang isinya Sultan Amangkurat II Raja Mataram harus menyerahkan pesisir Utara Jawa jika VOC membantu memenangkan terhadap pemberontakan Trunojoyo[8].
Daerah-daerah pesisir utara Jawa mulai Kerawang sampai ujung timur digadaikan pada VOC sebagai jaminan pembayaran biaya perang Trunajaya. Perjanjian itu segera diikuti dengan dikirimnya ekspedisi pasukan di bawah pimpinan Antonio Hurdt untuk mengejar laskar-laskar pemberontak. Peperangan berjalan cukup sengit dan diakhiri dengna tewasnya Panembahan Rama serta ditangkapnya Trunajaya oleh Kapitan de Jonker (Hendriatmo, 2006: 8). Dengan bantuan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679. Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680[9]. Pangeran Puger akhirnya menyerahkan diri dan diberi ampun oleh Amangkurat II dan diterima kembali di lingkungan istana.
Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura[10]. Pangeran Puger yang semula menetap di Kajenar pindah ke Plered setelah kota itu ditinggalkan. Perang antara Plered dan Kartasura meletus pada bulan November 1680. Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai perang antara Mataram melawan Kartasura. Akhirnya setahun kemudian, yaitu 28 November 1681 Pangeran Puger menyerah kalah. Babad Tanah Jawi menyebut Mataram runtuh tahun 1677, sedangkan Kartasura adalah kerajaan baru sebagai penerusnya.
Amangkurat II dikisahkan sebagai raja berhati lemah yang mudah dipengaruhi. Pangeran Puger adiknya, jauh lebih berperan dalam pemerintahan. Ia naik takhta atas bantuan VOC dengan hutang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden. Tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma berhasil menghasutnya agar lepas dari jeratan hutang tersebut[11]. Perasaan sakit hati yang diam-diam muncul pada diri Sunan akibat dari Perjanjian 1677 membuat rasa permusuhan kepada kompeni.
Pada tahun 1685 Amangkurat II menampung buronan VOC bernama Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma. Ketika itu di Batavia muncul perlawanan untung Surapati melawan VOC (Wiharyanto, 2006: 19). Untung Suropati diberinya tempat tinggal di desa Babirong untuk menyusun kekuatan. Bulan Februari 1686 Kapten Fran├žois Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati[12]. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack. Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati. Amangkurat II kemudian merestui Untung Suropati dan Nerangkusuma untuk merebut Pasuruan. Anggajaya bupati Pasuruan yang semula diangkat Amangkurat II terpaksa menjadi korban. Ia melarikan diri ke Surabaya bergabung dengan adiknya yang bernama Anggawangsa alias Adipati Jangrana.
Sikap Amangkurat II yang mendua akhirnya terbongkar. Pihak VOC menemukan surat-surat Amangkurat II kepada Cirebon, Johor, Palembang, dan bangsa Inggris yang isinya ajakan untuk memerangi Belanda. Amangkurat II juga mendukung pemberontakan Kapitan Jonker tahun 1689. Pihak VOC menekan Kartasura untuk segera melunasi biaya perang Trunajaya sebesar 2,5 juta gulden. Amangkurat II sendiri berusaha memperbaiki hubungan dengan pura-pura menyerang Untung Suropati di Pasuruan. Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703[13]. Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaitu Amangkurat III melawan adiknya, yaitu Pangeran Puger.

Perpecahan Saat Pemerintahan Amangkurat III
Amangkurat III naik takhta di Kartasura menggantikan Amangkurat II yang meninggal tahun 1703. Konon, menurut Babad Tanah Jawi, sebenarnya wahyu keprabon jatuh kepada Pangeran Puger. Kedekatan Sunan yang baru ini kepada tokoh-tokoh nasionalis di istana juga dengan Surapati sewaktu masih sebagai Pangeran Adipati Anom, membuatnya mengambil sikap permusuhan dengan Kompeni lebih terbuka. Sementara itu, Pangeran Puger yang memiliki pengaruh yang cukup kuat dikalangan bangsawan keraton dipinggirkan perannya dalam menentukan kebijakan di keraton. Hal ini disebabkan kekhawatirannya terhadap karisma Pangeran Puger. Namun hal ini adalah pangkal kesalahnnya yang akan membuatnya kehilangan tahta (Hendriatmo, 2006: 13).
Dukungan terhadap Pangeran Puger pun mengalir dari para pejabat yang tidak menyukai pemerintahan raja baru tersebut. Hal ini membuat Amangkurat III resah. Ia menceraikan Raden Ayu Himpun dan mengangkat permaisuri baru, seorang gadis dari desa Onje. Tekanan terhadap keluarganya membuat Raden Suryokusumo (putra Pangeran Puger) memberontak. Amangkurat III yang ketakutan segera mengurung Pangeran Puger sekeluarga. Mereka kemudian dibebaskan kembali atas bujukan Patih Sumabrata. Dukungan terhadap Pangeran Puger untuk merebut takhta kembali mengalir. Akhirnya, pada tahun 1704, Amangkurat III mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger sekeluarga, namun sasarannya itu lebih dulu melarikan diri ke Semarang[14].
Pangeran Puger di Semarang mendapat dukungan VOC, tentu saja dengan syarat-syarat yang menguntungkan Belanda. Ia pun mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Pakubuwana I. Terjadilah perang saudara untuk memperebutkan hak atas mahkota Mataram, yang lazim dikenal sebagai Perang Perebutan Tahta I (1704-1709).
Gabungan pasukannya bergerak tahun 1705 untuk merebut Kartasura. Pada awalnya, Susuhunan Hamangkurat Mas Mendapat dukungan dari sebagian besar bupati termasuk para bupati di pesisir utara dari Tegal hingga Surabaya. Hanya penguasa Madura sajalah yang masih tetap setia di pihak Kompeni (Hendriatmo, 2006: 13). Amangkurat III membangun pertahanan di Ungaran dipimpin Pangeran Arya Mataram, pamannya, yang diam-diam ternyata mendukung Pakubuwana I. Arya Mataram berhasil membujuk Amangkurat III supaya meninggalkan Kartasura. Ia sendiri kemudian bergabung dengan Pakubuwana I, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.
Pemerintahan Amangkurat III yang singkat ini merupakan kutukan Amangkurat I terhadap Amangkurat II yang telah meracuni minumannya ketika melarikan diri saat Kesultanan Mataram runtuh akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 silam. Konon, Amangkurat II dikutuk bahwa keturunannya tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang (Amangkurat III) dan itu pun hanya sebentar. Kisah pengutukan ini terdapat dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada masa pemerintahan raja keturunan Pakubuwana I sehingga kebenarannya sulit dibuktikan.
Setelah pertahanan di Ungaran jatuh, dan kemudian diikuti pula dengan jatuhnya Salatiga, jalan menuju Kartasura terbuka lebar dan pada tanggal 11 September 1705 Kartasura dapat dikuasai oleh pasukan Kompeni dan para pendukung Paku Buwono. Rombongan Amangkurat III melarikan diri ke Ponorogo sambil membawa semua pusakan keraton[15]. Di kota itu ia menyiksa Adipati Martowongso hanya karena salah paham. Melihat bupatinya disakiti, rakyat Ponorogo memberontak. Amangkurat III pun lari ke Madiun. Dari sana ia kemudian pindah ke Kediri. Untung Suropati bupati Pasuruan yang anti VOC segera mengirim bantuan untuk melindungi Amangkurat III.
Ekspedisi militer segera dikirim ke Jawa Timur di bawah pimpinan Govert Knol untuk memadamkan pemberontakan Sunan Mas dan Surapati (Hendriatmo, 2006: 14). Gabungan pasukan Kartasura, VOC, Madura, dan Surabaya bergerak menyerbu Pasuruan tahun 1706. Pada tahun 1706 Benteng di Bangil jatuh di sertai gugurnya Untung Surapati dalam pertempuran itu[16]. Putra-putranya kemudian bergabung dengan Amangkurat III di Malang. Sepanjang tahun 1707 Amangkurat III mengalami penderitaan karena diburu pasukan Pakubuwana I. Dari Malang ia pindah ke Blitar, kemudian ke Kediri. Kompeni membariskan pasukannya ke Carat, dekat Kapar di tepi Sungai Porong pada 15 September 1707. Pada pertempuran terakhir yang sangat menentukan di lembah Sangiri, Pegunungan Tengger, pasukan Kompeni berhasil memenangkan pertempuran dan Susuhunan Mas kembali melarikan diri ke Malang. Akhirnya dia memutuskan menyerah di Surabaya tahun 1708[17].
Pangeran Blitar, putra Pakubuwana I, datang ke Surabaya meminta Amangkurat III supaya menyerahkan pusaka-pusaka keraton, namun ditolak. Amangkurat III hanya sudi menyerahkannya langsung kepada Pakubuwana I. VOC kemudian memindahkan Amangkurat III ke tahanan Batavia. Dari sana ia diangkut untuk diasingkan ke Sri Lanka. Amangkurat III akhirnya meninggal di negeri itu pada tahun 1734. Konon, harta pusaka warisan Kesultanan Mataram ikut terbawa ke Sri Lanka.
Pada masa pemerintahan Amangkurat III Mataram berada penuh dalam kondisi perang yang cukup lama. Ini menandakan semakin tidak berdayanya Mataram dalam menghadapi kekuatan Kompeni dan juga campur tangan Kompeni terhadap ketatapemerintahan Mataram.

Perpecahan Saat Pemerintahan Paku Buwono I
Kemenangan Susuhunan Paku Buwono I dalam Perang Perebutan Mahkota I, harus dibayar mahal dengna ditandatanganinya perjanjian dengan Kompeni pada tahun 1705 yang berisikan antara lain: (1) Pengesahan kembali hasil perjanjian 1677 yang masih meragukan (2) hak kekuasaan Mataram atas Priangan dihapuskan dan hak kekuasaan atas daerah Priangan menjadi milik Kompeni garis yang menghubungkan Sungai Cilosari dan Citanduy dijadikan tapal batas antara wilayah Mataram dan Kompeni (3) penegasan batas wilayah Kompeni di Semarang (4) Pamekasan dan Sumenep menjadi hak Kompeni (5) perluasan hak-hak monopoli dan hak istimewa Kompeni di setiap Bandar pelabuhan perdagangan Mataram (6) kewajiban Mataram untuk menyerahkan 800 koyan beras setiap tahun untuk periode 25 tahun.
Dengan adanya perjanjian tersebut, Mataram kehilangan seluruh wilayahnya di Priangan (Jawa Barat) dan Sumenep – Pamekasan (Madura Timur). Wilayah Mataram hanya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur ditambah Madura Barat[18]. Susuhunan Paku Buwono I wafat pada tanggal 22 Februari tahun 1719.

Pemerintahan Amangkurat IV
Setelah Paku Buwono I meninggal, putera keempat Susuhuan yang bernama Raden Mas Suryoputro yang kemudian bergelar Pangeran Adipati Anom (putera mahkota) dinobatkan menjadi susuhunan dengan gelar Prabu Hamangkurat IV. Sunan baru ini juga lebih dikenal dengan sebutan Hamangkurat Prabu atau Hamangkurat Jawi. Diletakannya sebutan Jawi mungkin dikarenakan Sunan baru ini hanya memerintah wilayah belahan Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur).
Pada masa awal pemerintahannya, Pangeran Diponegoro, putera dari Sunan Paku Buwono I melakukan pemberontakan dan bersatu dengan Adipati Jayapuspita dari Surabaya. Pangeran Diponegoro menobatkan dirinya sebagai Panembahan Herucakra dan berkeraton di desa Panonan, Sukowati.
Kebijaksanaan Sunan Hamangkurat IV untuk menurunkan kedudukan kedua orang saudaranya, Pangeran Purbaya dan Pangeran Balitar menjadi pangeran sentana, menjadi sebab utama terjadinya pemberontakan yang dipimpin oleh kedua orang pangeran yang diikuti oleh beberapa bangsawan keratin lainnya. Pangeran Harya Mataram, saudara dari susuhunan turut bergabung dengan pemberontak pada tahun yang sama.
Perang antara Sunan Hamangkurat IV dengan pemberontak para bangsawan ini berlangsung cukup lama, kurang lebih empat tahun dan dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). Dengan bantuan Kompeni, Susuhunan dapat menundukkan pemberontakan itu. Pangeran Harya Mataram bersama putranya dihukum mati. Pepatih Dalem, Adipati Cakrajaya ditangkap di Semarang dan Pangeran Balitar wafat. Pangeran Purbaya dan Pangeran Diponegoro Herucaraka dapat ditangkap di Pasuruan dan kemudian dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika.
Pada masa akhir kekuasaannya, menjelang wafatnya, Sunan meminta bantuan kepada Kompeni dalam menetapkan penggantinya, diantara putera-puteranya. Susuhunan wafat pada tanggal 22 April 1727[19].

Pemerintahan Paku Buwono II
Pada tanggal 29 April 1727 Pangeran Adipati Anom yang masih berusia 16 tahun dinobatkan menjadi Susuhunan dengna gelar Paku Buwono II.  Pada tahun 1740 pecah keributan antara orang Tionghoa dengan Belanda yang menjalar dari Batavia ke Jawa Tengah. Di Batavia, lebih dari 10.000 orang Tionghoa mati terbunuh oleh Belanda. Akibat peristiwa itu, Keraton Mataram yang beribukota di Kartasura mengalami kekacauan. Paku Buwono II tidak dapat mengatasi kerusuhan yang timbul akibat adanya aliansi antara elit bangsawan dengan para pengusaha Cina. Paku Buwono II terpaksa mengungsi ke daerah sekitar Gunung Lawu. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Geger Pacinan.
Para patriot Mataram bekerja sama dengan pasukan Tionghoa yang melawan Belanda. Di Kartasura, Paku Buwana II berhasil merebut benteng Belanda yang berada dekat keraton. Tetapi VOC dengan bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura Barat dapat mematahkan kepungan pasukan Jawa dan Tionghoa, dan Kartasura diduduki kembali oleh Belanda. Paku Buwono II menjadi kembali memihak VOC.
Para pendukung Raden Mas Garendi, cucu Sunan Mas memproklamirkannya sebagai Susuhunan yang sah dan bersama pasukan Tionghoa menggempur keraton. Namun, ia dijatuhkan oleh pasukan Belanda dari tahtanya dan Paku Buwono II dipulihkan pada kedudukannya. Paku Buwono II harus membayar mahal pertolongan VOC ini. Kekuasaan Belanda terpaksa diterimanya diseluruh Mataram dan kepada VOC diberikan hak membuat mata uang sendiri di Pulau Jawa. Paku Buwono II meninggalkan Kartasura yang rusak berat akibat berbagai pertempuran, dan pindah ke Surakarta tahun 1744[20].
Sebagai imbalannya VOC minta diperbolehkan intervensi atas pemerintahan Mataram. Kedaulatan Keraton Surakarta benar-benar diintervensi oleh VOC. Sesudah itu terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said yang dibantu Pangeran Mangkubumi, adik Paku Buwono II. Pangeran Mangkubumi tidak terima kalau Negara warisan leluhurnya diserahkan kepada bangsa penjajah. Sejak tahun 1744 semuanya harus loyal kepada VOC.
Dikeraton Surakarta, Paku Buwono II dalam keadaan sakit keras dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang merupakan penyerahan Negara Mataram seluruhnya kepada VOC. Dengan terlaksananya perjanjian itu, tamatlah sudah riwayat Kerajaan Mataram[21]. Ketika Pangeran Mangkubumi mendengar kabar tersebut, dia sangat marah dan Susuhunan Paku Buwono II menyatakan diri turun tahta dengan maksud mbegawan dan seterusnya memakai gelar Kyai Ageng Mataram.

Pemerintahan Paku Buwono III
Sunan Paku Buwono III tetap meneruskan kebijakan politik pendahulunya. Ketegangan yang mengeras berubah menjadi peperangan berkepanjangan antara keraton yang disokong penuh oleh VOC melawan pangeran Mangkubumi yang beraliansi dengan Raden Mas Said. Perang terbuka dan gerilya selama 6 tahun (1749-1755) ternyata cukup melelahkan kedua belah pihak. Pada tanggal 13 Februari 1755 dicapai kesepakatan antara Sunan Paku Buwono III dengan Pangeran Mangkubumi. Isi perjanjian itu bahwa Pangeran Mangkubumi diberi separuh kerajaan Mataram dengan ibukota di Yogyakarta. Perjanjian ini disebut Perjanjian Giyanti atau Babad Palihan Negari (Purwadi, 2008: 29).
Perjanjian Giyanti ini intinya adalah membagi Negara Mataram menjadi dua bagian. Separuh diperintah oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan ibukota Surakarta, bagian yang lain dikuasai oleh Susuhunan Kebanaran yang sejak itu berganti gelarnya menjadi Sultan Hamengku Buwono I, dengan ibukota Ngayogyakarta.
Permusyawaratan antara Kompeni (Hartingh), Sunan Mas Said dan Danurejo I (utusan dari Sultan) terjadi pada Kamis, 17 Maret 1757. Dalam pertemuan itu Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo diagkat menjadi Pangeran Miji dengan upacara istimewa dan diberi lungguh sebesar 4000 karja yang sebagian ialah Daerah Kaduwang, yang lain terletak di Laroh, Matesih dan Gunungkidul. Raden Mas Said kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I. Kejadian ini berdasarkan perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret 1757. Dengan demikian Keraton Surakarta pun kekuasaannya telah dikurangi Pura Mangkunegaran. Perkembangan selanjutnya, kerajaan Yogyakarta juga mengalami penyusutan. Pada tanggal 28 Desember 1811, Keraton Yogyakarta terbagi dengan Pura Paku Alaman (Purwadi, 2008: 32).



GLOSARIUM

Susuhunan: sunan
Admiral: laksamana
Kudeta: perebutan kekuasaan
Selir: istri yang kedudukannya lebih rendah dari pada istri pertama
Laskar: kelompok, pasukan, tentara

Daftar Pustaka

Graaf, H.J.de. 1987. Runtuhnya Istana Mataram. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Hendriatmo, Anton.Satyo. 2006. Giyanti 1755. Jakarta: CS Book.
http://id.wikipedia.org/wiki/Amangkurat_II, (Online), diakses 6 April 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Trunojoyo, (Online), diakses 6 April 2013.
Poesponegoro,Marwati Djoened & Notosusanto,Nugroho. 2010. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta:Balai Pustaka.
Purwadi. 2008. Babad Giyanti: Sejarah Pembagian Kerajaan Jawa. Yogyakarta: Media Abadi.
Wiharyanto, A. Kardiyat. 2006. Sejarah Indonesia Madya Abad XVI – XIX. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharm


[1] Sunan tidak akan berhenti berusaha sebelum dia memusnahkan semua pejabat tinggi dan menggantikan mereka dengan abdi-abdi pengikutnya sehingga tampaknya dia tidak mempercayai lagi pembesar dari kalangan keluarganya sendiri (lihat Runtuhnya Istana Mataram, hal. 11).
[2] Pangeran Giri dari Gresik memang kemenakan Pangeran Surabaya, tetapi sudah lama membenci pamannya itu (lihat Runtuhnya Istana Mataram, hal 8)
[3] Putera Hamangkurat I dari istri Kanjeng Ratu Kilen, cucu dari Panembahan Rama (Kajoran)
[4] Lihat Runtuhnya Istana Mataram, hal 26-27
[5] Raden Kajoran memperkenalkan menantunya, Raden Trunajaya kepada putra mahkota. Lihat Runtuhnya Istana Mataram, hal 49.
[6] Banyak yang tewas dikalangan kaum pemberontak, tetapi mereka bertahan dengan berani: setelah itu banyak orang Mataram yang tewas sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan mereka, lihat Runtuhnya Istana Mataram hal. 125
[7] Dinobatkan di Masjid Demak dengan gelar Amangkurat II. Lihat Sejarah Indonesia Madya Abad XVI – XIX, hal 18
[8] Dalam buku Giyanti 1755 hal 8 menyebutkan perjanjian itu antara lain menyebutkan bahwa VOC mendapatkan hak atas wilayah Mataram sampai batas sungai Pamanukan (Jawa Barat), monopoli impor kain dan tenun Persia oleh VOC di pelabuhan Mataram dan juga beberapa penyederhanaan tata cara perutusan VOC dalam menghadap raja.
[9] Trunajaya di bawa kehadapan raja, yang kemudian langsung menikam jantung sang pemimpin bemberontak itu dengan keris pusaka, Kiai Balabar
[10] Karena Plered sudah dianggap tercemar sehingga dilakukan pemindahan ke sebuah desa di wilayah sekitar Pajang, bernama Wanakerta dan selanjutnya dinamakan Kartasura Hadiningrat, lihat Gayanti 1755, hal  9.
[11] Tokoh-tokoh nasionalis yang yang tidak suka melihat hubungan yang terjadi antara Mataram dengan Kompeni antara lain Ratu Hamangkurat, putera mahkota (Pangeran adipati Anom) dan Patih Nerangkusuma. Lihat Giyanti 1755 hal 11.
[12] Kapten Franquis Tack merupakan utusan kompeni untuk meminta penyerahan Untung Surapati beserta pasukannya.
[13] Susuhunan Hamangkurat II wafat pada 3 November 1703. Lihat Giyanti 1755 hal 12.
[14] Pada 12 Maret 1704, Pangeran Puger meninggalkan keraton dan pergi ke Semarang untuk mendapatkan perlindungan dari Bupati Semarang, Ki Rangga Yudawangsa, yang dekat dengan Kompeni. Lihat Giyanti 1755 hal 13.
[15] Susuhunan Hamangkurat Mas melarikan diri ke Jawa Timur dan membuat aliansi yang kuat dengan Surapati serta bertekad untuk terus melanjutkan peperangan. Lihat Giyanti 1755, hal 14.
[16] Lihat Giyanti 1755 hal 14.
[17] Pada tahun 1709, Susuhunan Hamangkurat Mas di jemput oleh Govert Knol di perbatasan Surabaya dan Japan dengan disertai penghormatan penuh bagi seorang raja. Lihat Giyanti 1755, hal 14
[18] Lihat Giyanti 1755 hal 18-19.
[19] Lihat Giyanti 1755,hal 19-20.
[20] Lihat Babad Giyanti, hal 24-25.
[21] Lihat Babad Giyanti, hal 28-29

loading...

0 komentar

Post a Comment