9.07.2016

dunia penuh tanda tanya

“Dunia ini penuh dengan tanda Tanya yang membuat kita harus memutar otak untuk menemukan jalan hidup yang kita pilih, Karena setiap manusia dihadapkan dengan beberapa pilihan yang harus mereka seleksi dengan seselektif mungkin. Sedikit saja kita salah memilih, dunia akhirat sengsara kita, Allah memberikan beberapa pilihan dan kitapun diberi kebebasan untuk memilihnya yang pada akhirnya Allahlah yang menentukan segalanya”. Tegas Ustad Maulana di hadapan anak-anak kecil yang biasa belajar di mushollanya.

Mentari pagi mulai menampakkan sinar kuningnya dari ufuk timur, menandakan waktu mengaji anak-anak itu sudah usai. Mereka turun satu-persatu dari mushalla dengan wajah ceria sambil melompat-lompat kecil kegirangan, tak jarang mereka bersenda gurau dengan teman sebaya mereka. Mereka memeluk erat kitab suci Al Qur’an di dada kecil mereka, wajah polos mereka tak membawa beban hidup dunia fana ini, kadang Ustad Maulana membantu merapikan jilbab dan peci mereka yang miring. “Ku titipkan nasib umat di pundak kalian wahai anak-anakku,” kata-kata inilah yang sering muncul dalam benak Ustad Maulana saat menyaksikan santri-santri kalong itu pergi meninggalkannya berdiri di pintu musholla.

Ustad Maulana menarik nafasnya dalam-dalam sambil tersenyum melihat anak-anak itu ceria. Ia merasa kebahagiaan hidupnya ada saat dia mengajar mereka walaupun sejak sekian lama ia menikah belum pernah dikaruniai seorang anak, sampai saat inipun wajahnya yang sudah mengeriput masih merindukan seorang putera yang bisa menemaninya. Santri-santri kalong itulah yang menjadi obat kerinduannya akan momongan.

Satu-persatu anak-anak itu lenyap dari pandangan Ustad Maulana, membuat rasa pilunya kembali menghampiri, wajahnya yang berbinar kembali berkaca-kaca akan air mata kerinduannya sambul merundukkan kepala. Dengan rasa sedih itupun ia mencoba membawanya dan membalikkan badannya bergegas menuju pintu rumahnya, karena ia yakin akhirat bisa ia dapat dengan mengajarkan agama dan dunia ia dapat dengan bekerja, bukan dengan berdiam diri di rumahnya saja, iapun bersiap-siap menuju ladangnya.

“Ustad, tolong!” tetangga Ustad Maulana mencoba menghentikan langkahnya dengan suara ngos-ngosan, wajah orang itu memerah seakan ketakutanlah yang ia rasakan, orang itu menarik tangan Ustad Maulana tanpa menjelaskan maksud orang itu, sepertinya jawabannya ada dimana orang itu akan terus menarik tangan Ustad Maulana.
Terus saja.

Orang itu berhanti di depan rumah bagus yang dihiasi janur kuning di depan pagarnya, di halaman rumah itu terlihat orang-orang yang masih sibuk merapikan terop dan kursi-kursi para undangan pernikahan. Ya, malam tadi adalah acara pernikahan Si Maryam dan Alfan anak bapak Sasmito kepala desa Talung, Si Maryam dan suaminya Alfan adalah salah satu santri kalongnya juga lima belas tahun yang lalu, ternyata jodoh berpihak pada mereka berdua.

Bisa dibayangkan betapa indah melam pertama mereka. Saat yang paling ditunggu dua insan manusia setelah akad nikah, saat dimana dunia seakan hanya milik mereka berdua, karena mereka larut dalam indahnya cinta yang membuat mereka merasa semalam hanyalah semenit lamanya, rasa penasaran Ustad Maulana belum juga terjawab, sebenarnya apa yang tetangganya itu ingin tunjukkan pada Ustad Maulana.

Ustad Maulana memandang wajah orang yang menariknya tadi dengan tanda tanya besar yang membuat ia bingung, mengapa dia terlihat begitu khawatir, padahal hari itu adalah hari bahagia bagi para pengantin itu.
“Tengapa anda begitu takut?” Tanya Ustad Maulana penasaran.
“Tidakkah Ustad dengar teriakan itu,?” jawab orang itu gemetar.
Ustad Maulana berdiam dan mencoba mendengarkan teriakan yang orang itu maksud, dan benar teriakan itu berasal dari belakang rumah pak Sasmito, tuan rumah acara itu.
“Memangnya ada apa pak”?, Tanya Ustad Maulana masih penasaran.
“Sebaiknya Ustad ikut saya masuk dan langsung bertanya pada mereka, saya di sini dari tadi masih penasaran kenapa mereka seperti itu, pak Sasmito tidak ada di rumah Ustad, baru saja dia keluar, orang-orang yang bertugas di bagian dapurpun baru saja kembali ke rumah mereka, saya juga tidak tahu apa yang terjadi”, tegas orang itu.

Ustad Maulana dan orang itu langsung menuju rumah itu, mereka mencoba mengetuk pintu dan bersalam, namun bukan jawaban yang mereka dengar, malah suara pertengkaran antara dua orang yang mereka dengar dari dalam rumah itu.

Ustad Maulana bergegas menuju rumah Pak Sasmito dan membuka pagar belakang rumah, syahdan, pecahan piring-piring yang baru dicuci berserakan dimana-mana dan di antara pecahan-pecahan itu Ustad Maulana melihat Si Maryam dan Alfan yang tertegun melihat Ustad Maulana muncul dari pintu pagar belakang rumah mereka.
“Apa-Apaan kalian ini”?, Ustad Maulana membentak dan masih bertanya-tanya, kenapa hari bahagia ini juga menjadi hari pertengkaran mereka, dia bingung dan mencoba mencari jawabannya dengan menanyai mereka.

Mereka berdua tak langsung menjawab pertanyaan Ustad Maulana, karena mereka merasa malu pertengkaran mereka malah terjadi di depan orang yang sangat disegani di desa mereka, juga guru yang mengajarai mereka alif, ba, tsa. mereka berdua merunduk tak berani menatap wajah Ustad Maulana, namun wajah keduanya masih terlihat merah padam dan Ustad Maulana belum bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaannya dalam keadaan seperti itu, mereka mematung beberapa saat untuk menenangkan diri masing-masing, Ustad Maulana mencoba mendinginkan suasana dengan merapikan pecahan-pecahan piring dan perabot lainnya dibantu tetangganya yang membawa dia ke tempat itu, sementara Maryam dan suaminya Alfan dibiarkan membisu malu di sebelahnya.
“punten Ustad”, Alfan bersuara berusaha menjelaskan semuanya, “hari ini adalah hari bahagia saya Ustad, hari yang paling saya tunggu-tunggu, tapi tidak untuk istri saya ini, dia tidak suka dengan pernikahan ini Ustad, saya merasa sendiri meski saya di dekatnya, merasa dia tidak hadir di sini, meski dia di hadapan saya sekarang, saya tidak pernah merasakan kehadirannya malam ini, walau dia disamping saya semalaman ini, saya sangat emosi dan membanting semua ini di hadapannya, hampir saja saya ceraikan dia sekarang, tapi saya faham bahwa resepsi ini terlanjur sudah, dan apa kata orang nanti jika pagi ini merupakan akhir pernikahan yang baru semalam dilaksanakan”, tegas Alfan.

Istrinya hanya merunduk tak berani mengangkat kepalanya, seakan dialah orang yang menghancurkan semuanya, ia meneteskan air mata menangis di samping suaminya, Alfan.
“Dari mana kamu tahu bahwa istrimu tidak mengharapkanmu”? tanya Ustad Maulana.
“Dia sendiri yang mengatakannya kepada saya Ustad bahwa bukan sayalah yang ia harapkan, saya tahu bahwa dia hanya menuruti kemauan orang tuanya, dan berani berkata jujur akan perasaannya kepada saya, tapi apa daya, amarah membakar saya dan membuat semua ini terjadi”.

Ustad Maulana duduk di depan mereka, menatap mereka, memperhatikan mereka berdua, dalam benaknya selalu berkata-kata dan bisa membaca bathin mereka berdua, ucapan nasehatnya muncul menyentuh hati mereka berdua, “begini nak, kalau saya lihat sepintas sebenarnya kalian itu pasangan yang sangat serasi, ada banyak kesamaan mengapa kalian itu dijodohkan oleh orang tua kalian, mereka merasa kalian berdua akan bisa menjadi pasangan di dunia dan akhirat, seharusnya kalian berbahagia, tapi entahlah, mungkin Allah mengujimu wahai Alfan sebagai pemimpin dan imam baginya, jangan sampai kau terkalahkan oleh amarah yang ujungnya malah mudah untuk merusak kebahagiaanmu, jangan kau mudah mengucapkan kata talak pada isterimu ini, tirulah Rasulullah, Rasulullah adalah tipe lelaki yang setia, karena dia sedih dan bahagia selalu ia jalani bersama isterinya Khodijah tercinta, Rosulullah bukan orang yang jelek rupa sehingga dia hanya tetap pada satu isterinya itu, Rasulullah sangat-sangatlah tampan dan menjadi idaman perempuan-perempuan saat itu, ketampanan beliau bukan hanya sebatas Justin Bieber, tapi persentasi ketampanan beliau 50% dari 100%, dan 25% untuk Nabi Yusuf, dan 25% untuk umat sedunia ini, Nabi Yusuf saja sudah bisa membuat para istri pembesar Mesir saat itu memotong tangannya sendiri tanpa sadar, apalagi Rasulullah. Ingat Alfan, mengertilah istrimu, dia terpojok antara dua pilihan, antara membahagiakan orang tuanya dan dengan rasa cinta yang ia tidak bisa bohongi, perceraaian memang dieprbolehkan. Tapi Allah sangat membenci hal itu “.

Mereka tersentuh hatinya, Si Alfan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Si Maryam hanya bisa menangis dan berusaha menghapus air matanya yang mengalir di antara pipinya itu.




Bersambung…

loading...

0 komentar

Post a Comment