9.08.2016

Mimpi nadia


         sekarang ……
            Mataku sudah terbuka,ternyata bintang itu terlalu jauh adanya.
            Bintang yang jadi harapanku pupus sudah,
             aku kecewa………..”
           
            Nadia menatap tulisan pendek yang memiliki makna dan membutuhkan banyak alasan, kenapa dulu ia menulisnya di dalam salah satu lembaran dari agenda pink yang kini ada di tangan kanannya. mengenai cita-cita yang kini harus ia pendam. ia ingat betul, tentang mimpi yang pernah ada di benaknya dan kesederhanaan yang memaksa ia harus membuang jauh mimpi itu.
           Sebenarnya, cita-cita nadia tidak terlalu muluk ia hanya ingin ketika lulus dari pendidikan SMAnya. ia bisa kuliyah kedokteran di salah satu universitas terbanama yang terletak di kota-kota besar supaya bisa mengantarkannya menjadi seorang dokter. sebagai seorang penulis untuk menyalurkan hobinya, ia ingin menikmati pendidikan yang di tunjang fasilitas lengkap, di mana hal itu tidak pernah ia dapatkan di sekolahnya, ia juga penasaran bagaimana  rasanya hidup bebas tanpa adanya aturan dari orang tua. dan selain itu ia percaya kalau hidup di kota besar peluang untuk menyalurkan hobi menulisnya akan lebih banyak dan akan lebih mudah bertemu dengan penerbit yang akan menebitkan tulisannya. menurut nadia hidup di kampungnya begitu banyak kekakngan, kolot dann ketinggalan zaman. itulah alasan kenapa ia jarang sekali membuka tulisan yang ada di buku diary itu. ia ingin suatu perubahan dalam hidupnya yang bisa menikmati masa remajanya layaknya mereka yang bebas nonton tv, keluar malam tanpa adanya larangan dari siapapu.
           Akan tetapi ia adalah nadia yang terlahir dari keluarga sederhana, bapaknya hanya seorang petani yang memilikin tanah tak seberapa dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga, rupiah sangat lah mahal bagi orang tua nadia, jangankan menyekolahkan nadia di fakultas kedokteran universitas ternama di kota besar dengan fasilitas lengkap dan maju, di universitas swasta saja dengan fasilitas sederhana dan study seadanya pun adalah suatu keberuntungan bagi mereka.
          Hemmmmm iya sih.........
          Jika bicara tentang ke ajaiban maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. bukannya ke ajaiban tak pernah memperhitungkan apapun? dan nadia sangat percaya akan itu, makanya ia berani menggantung mimpinya tingi-ting. nadia ingat bagaimana sebuah ke ajaiban membuat milton erikson menjadi seorang terapi relaksasi sukses, padahal ia tahu seorang miltonadalah laki-laki yang sejak lahir menyandang tuna rungu, netra dan mengidap penyakit arhytmia serta sedikit disleksia. dan ketika sebuah ke ajaiban mmbuat arini(nama samaran) seprang wanita yang terlahir tanpa kedua tangan  yang menjadi pilot dengan kaki. bukan tidak mungkin baginya untuk percaya bahwa suatu saat nanti ke ajaiban itu akan datang menghampirinya, merangkulnya dan membawanya terbang menjadikan apa yang di inginkannya tercapai.
          Nadia sangat suka menulis, kadang di waktu senggang dari aktivitasnya ia membuat cerpen dan puisi, dan iulah dari salah satu mimpinya menjadi seorang penulis terkenal, memang harus di akui kemampuan nadia tentang sastra brada di atas rata-rata teman, akan tetapi satu hal yang perlu ia ingat untuk menjadi orang yang sukses tidak hanya di butuhkan ke inginan melainkan juga keberanian untuk memulainya. dan sepertinya ia belum sedikitpun memiliki keberanian itu, ia hanya berdiri diam dan menunggu sebuah ke ajaiban datang kepadanya, memang benar ke ajaiban tidak memperhitungkan apapun tetapi ia keajaiban tidak serta merta turun dari langit, butuh proses rumit untuk mencapai sebuah ke ajaiban, untuk menjadi seorang milton erikson atau pun arini. gang tae jun seorang tokoh dalam film korea yang berjudul gujuhi gang tae jun berulang kali berkata dalam ceritanya bahwa "ke ajaiban adalah kata lain dari kerja keras".
           Namun, kepolosan mungkin telah menyederhanakan pemikiran nadia, dan bahkan merubahnya mejadi sosok pribadi yang mudah menuding nasib sebagai alasan dalam kegagalannya. ia begitu mudah menciptakan angan-angan tanpa mempertimbangkan kata realisti
           Namun kini, di tempatnya ia duduk. ia tak pernah menyesal menatapi angan-angan itu sebagai kenangan dam memendam mimpi-mimpinya. kecewa memang ada tapi kekecewaan itu lebih ia arahkan pada dirinya yang tak mau memulai apapun, ia sadar siapa yang lebih pantas ia salahkan dalam alur hidup.
           Kini ia duduk di salah satu kelas milik sebuah universitas swasta yang berdiri di kotanya tentu sebuah universitas sederhana yang sangat jauh dari kata maju, ia mengikuti arus hidup yang membawanya maju ke depan dan menatap mimpi-mimpi itu sebagai kenangan. kini ia tak lagi percaya akan sebuah ke ajaiban, tetapi ia yakin ia tercipta untuk sebuah alasan. di luar impiannya masih banyak hal yang harus ia perbaiki, boleh jadi ia telah gagal  tetapi bukankah kegagalan adalah ke suksesan yang tertunda? hanya saja ia harus ingat bahwa ketika ia berani bermimpi maka ia juga harus berani memulai langkah untuk meraih mimpinya, atau jika tidak ia harus pasrah tenggelam dua kali ke dalam jurang yang sama, yaitu kegagalan


“ willing is not enough, you must do”

          Dan nasib bukanlah alasan kita untuk menerima kegagalan.

loading...

0 komentar

Post a Comment