9.25.2016

musim di seberang

Bagi Tuhan bukanlah hal sulit, menghadirkan sebuah rasa yang kusebut "cinta" pada masing-masing hambanya. Meskipun begitu sederhana bagi Ia dalam menghadirkan tetapi jauh berbeda dengan apa yang dirasa. Tak mudah menerima amanah itu, mengingat antara nafsu dan cinta cukup sulit untuk dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Letak perbedaannya mungkin setipis jembatan sirotol mustaqim, seperti sehelai rambut yang dibelah menjadi tujuh bagian sama rata. Makanya aku terus dan terus bertanya "ini nafsu ataukah cinta".
Aku pun mulai terjebak, sedikit demi sedikit rasa itu pun mulai menggiringku masuk ke dalam ilalang-ilalang kebingungan yang berujung pada ketersesatan. Tiada yang bisa aku perbuat saat ini, menyapaMu pun aku tak tau. Tiada cahaya yang nampak, semua menjadi gelap dalam sebuah terang. Mataku hanya menjadi hiasan, tak ada fungsi dan manfaat yang mampu ia berikan, ia menjadi tiada karena keberadaan.
Riuhnya angin di luaran sana sudah tak mengenal musim lagi. Tariannya mengundang sejuta gelisah pada ragaku akan dirimu. Kelembutanmu yang begitu rentan terus menggangguku. Walau hanya sebatas kehawatiran, ia tak ubah seperti ancaman longsor bagi kerajaan semut yang berada persis di bawah tebing saat musim penghujan. Entahlah, siapa dirimu bagiku pun siapa diriku bagimu.
Serentetan pertanyaan tiada henti-hentinya menghantuiku, mereka mentertawakanku karena tak berani bertanya sejauh mana kuberarti bagimu. Bukan karena ku tak mengerti apa yang akan kau ucapkan sebagai jawaban. Melainkan karena ku tahu pada batas mana kini ku berdiri. Mengetauhi dan mengenalmu berada tepat pada kolom "hanyalah", dan tak lebih dari itu.
Oooh Sang Maha Cinta, kebingunganku yang berwujud tanda tanya terus mengganggu perjalanan kehidupan yang singkat ini. Apakah Kau hadirkan ujian di dalamnya, Kau hadirkan teguran di dalamnya, dan Kau hadirkan adzab di dalamnya. Semua masih misteri yang tak pernah atau sulit untuk kuketahui jawaban yang hakiki. Yang jelas, untuk saat ini aku hanya bisa bersikap seperti halnya air. Terus mengikuti alurMu dengan mengalir perlahan, dari tingginya hulu menuju hilir. Hingga pada suatu saat aku kan terhenti dan tenang bermuara pada luasnya lautan, tempat terahir ku berlabuh dalam keabadian.
-opaN-

loading...

0 komentar

Post a Comment