9.01.2016

SISA-SISA PENINGGALAN MASA MATARAM ISLAM



            
             Mataram pada asalnya termasuk kerajaan pajang dan merupakan daerah yang subur, tentunya kita sudah mengetahui kerajaan sebelumnya yaitu pajang juga merupakan kerajaan yang terkenal sangat subur. Sebelum daerah tersebut di hadiahkan kepada Ki Ageng Pamanahan, anak ki Ageng Ngenis. Di tempat inilah Ki Ageng pamanahan mendirikan keraton pada tahun 1578, tetapi setelah beberapa tahun mendiami keraton, Ki Ageng pamanahan atau Ki Ageng Mataram itu wafat pada tahun 1584.
             Tentunya suatu kerajaan yang pernah berdiri atau pernah ada, dan pernah mengalami masa kejayaan, juga akan meninggalkan beberapa sisa-sisa peninggalan dari masa kejayaannya sebelum kerajaan tersebut runtuh. Berikut sisa peninggalan pada masa mataram islam yang banyak di temukan di kotagede:
1.        Pintu gerbang masuk komplek makam kotagede
              berbentuk gapura paduraksa dan pohon beringin tua yang masih tumbuh kokoh sampai sekarang. bangunan model paduraksa itu telah dikenal sejak masa Majapahit. Terletak di kotagede 10 Km arah tenggara dari kota Yogyakarta. Di tempat ini kita dapati berbagai macam perhiasan dan interior yang terbuat dari perak. kota kuno ini adalah bekas ibukota Kerajaan Mataram yang awalnya dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan abad 16 M. Kotagede merupakan jembatan yang menghubungkan antara tradisi Hindu - Budha dan Islam, hal itu terlihat pada peninggalan kuno kompleks masjid makam Panembahan Senopati beserta keluarganya.
2.        Masjid kuno di daerah kompleks makam kotagede                                                                     Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Jogja / Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam. Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.
3.        Struktur bangunan air sepanjang 4 meter di Desa Kerto, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta, di depan rumah seorang warga bernama Misbakhul Munir (80 tahun). Talut air tersebut diperkirakan peninggalan Keraton Kerto yang berdiri pada zaman Mataram Islam.
4.        konstruksi benteng sisi selatan Keraton Pleret berupa batu bata merah yang terkubur hingga 1,5 meter. Keraton Kerto dan Pleret adalah bagian Kerajaan Islam yang saat ini menjadi kawasan cagar budaya. Kawasan ini mempunyai  nilai sejarah tinggi karena memiliki banyak peninggalan arkeologi Hindu, Buddha, Islam, serta kolonial Belanda.
5.        Pasar Kotagede
             Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan - utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini. Setiap pagi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah. Bila ingin berkelana di Kotagede, Anda bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.
6.        Kompleks Makam Pendiri Kerajaan
              Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari. Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana). Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 - 16.00. Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret / membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.
7.        Rumah Tradisional
              Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa. Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan "cagar budaya". Masuklah ke dalam, di sana Anda akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.
8.        Kedhaton
              Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan. Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan "watu gilang", sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S - AINSI VA LE MONDE - Z00 GAAT DE WERELD - COSI VAN IL MONDO. Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS - IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU - IGM (In Glorium Maximam). Entah apa maksudnya masih belum di ketahui. dalam bangunan itu juga terdapat "watu cantheng", tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan. Masyarakat setempat menduga bahwa "bola" batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.
9.        Reruntuhan Benteng
              Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara. Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.
              Dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan. Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas, toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede.
             Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa. Selain itu, Anda juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh. jadi, bisa di simpulkan bahwa kotagede merupakan saksi bisu dari berdirinya sebuah kerajaan islam di daerah tersebut, yaitu kerajaan mataram islam.

loading...

0 komentar

Post a Comment