8.17.2017

Sejarah perkembangan ilmu

Landasan ilmu pada zaman yunani
Priode filsafat yunani merupakan priode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari metosentris menjadi logo sentries. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi.gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi dewa bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun ketika filsafat dperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktifitas dewa, tetapi aktifitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Untuk menelusuri filsafat yunani, perlu dijelaskan terlebih dulu asal kata filsafat. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM, di yunani sopia diberi arti kebijaksanaan; Sophia juga berarti kecakapan. Kata piloshopos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh heraklitos (540-480 SM). Sementara orang ada yang mengatakan bahwa kata tersebut mula-mula dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM). Namun pendapat yang lebih tepat adalah pendapat yang mengatakan bahwaheraklitoslah yang menggunakan istilah tersebut. Menurutnya, philosopos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas sebagai pengejawantahan dari pada kecintaan nya akan kebenaran dan mulai benar-benar luas digunakan pada masa kaum sofis dan Socrates yang memberikan arti philosophiensebagai pengusa secara sistematis terhadap pengetahuan teoritis.
Orang yunani awalnya sangat percaya pada dongeng dan takhayyul, tetapi lama kelamaan, terutama setelah mereka mampu menggunakan yang riil dengan yang ilusi, mereka mampu keluar dari kunkungan metologi dan mendapat dasar pengetahuan ilmiah.[1] Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah thales (624-546 SM). Ia degelari bapak filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan.”apa sebenarnya asal usul alam semesta ini ? pertanyaan ini sangat mendasar, terlepas apapun jawabannya. Namun, yang penting adalah pertanyaan itu dijawab dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan.
Setelah thales muncul anaximandros (610-540 SM). Anaximandros mencoba menjelaskan bahwa subtansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Dia tidak setuju unsure utama alam adalah salah satu dari unsure-unsur yang ada, seperti air atau tanah.
Berbeda dengan thales dan anaximandros, heraklitos (540-480 SM). Melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah; sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Segala sesuatu saling bertentangan dan dalam pertentangan itulah kebenaran. Gitar tidak akan menghasilkan bunyi kalau dawai tidak ditegangkan antara dua ujungnya.
Filosof  alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides. (515-440 SM). Yang lebih muda umurnya dari pada heraklitos pandangan nya bertolak belakang denagn heraklitos. Menurut heraklitos, realitas seluruh nya bukanlah suatu yang lain dari pada gerak dan perubahan, sedangkan menurut parmanides, gerak dan perubahan tidak mungkin terjadi. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Dia menegaskan bahwa yang ada itu ada.
Setelah berahirnya masa para filosof alam, maka muncul masa transisi, yakni penelitian terhadap alam tidak menjadi fokus utama, tetapi sudah mulai menjurus pada penyelidikan pada manusia. Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga timbullah kaum “sofis” kaum sofis ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras(481-411 SM). Ia menyatakan bahwa “manusia” adalah ukuran kebenaran. Pernyataan ini merupakan cikal bakal humanisme.
Puncak kejayaan filsafat yunani terjadi pada masa aristoteles (384-322 SM). Ia murid plato,seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukan nya dalam suatu system: logika, matematika,fisika, dan matefisika. Logika aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasar nya silogisme terdiri dari tiga premis:
ü  Semua manusia akan mati (pemis mayor)
ü  Socrates seorang manusia (premis minor)
ü  Socrates akan mati (konklusi)
Logika aristoteles ini juga disebut dengan logikadeduktif, yang mengukur valid atau tidak nya sebuah pemikiran.
            Filsafat yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikiran nya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan.

Itulah artikel singkat tentang perkembangan ilmu, mohon maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan, komentar anda sangat bermanfaat bagi admin untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahan

loading...

0 komentar

Post a Comment